Aktiviti Nogori

untuk makluman sebarang aktiviti di Negeri Sembilan hantarkan maklumat anda ke bukuone@gmail.com

featured-content2

featured-content2

http://beritan9.blogspot.com/2011/12/agihan-zakat-asnaf-mualaf-ditambah.html

featured-content2

featured-content2


Memaparkan catatan dengan label akademik. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label akademik. Papar semua catatan

Kenapa Orang Minang suka merantau?

Dikirim oleh Warieh Isnin, 4 Februari 2013 0 Komen

Faktor budaya
Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak.
Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sedari kecil. Siapa pun yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan
selalu diperolok-olok oleh teman-temannya.Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau.Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena dikampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.
Salah satu motif tenun songket Minangkabau khas nagari Pandai Sikek.

Faktor ekonomi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pedagang Minangkabau
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.
Selain itu, perekonomian masyarakat Minangkabau sejak dahulunya telah ditopang oleh kemampuan berdagang, terutama untuk mendistribusikan hasil bumi mereka. Kawasan pedalaman Minangkabau, secara geologis memiliki cadangan bahan baku terutama emas, tembaga, timah, seng, merkuri, dan besi, semua bahan tersebut telah mampu diolah oleh mereka.Sehingga julukan suvarnadvipa (pulau emas) yang muncul pada cerita legenda di India sebelum Masehi, kemungkinan dirujuk untuk pulau Sumatera karena hal ini.
Pedagang dari Arab pada abad ke-9, telah melaporkan bahwa masyarakat di pulau Sumatera telah menggunakan sejumlah emas dalam perdagangannya. Kemudian dilanjutkan pada abad ke-13 diketahui ada raja di Sumatera yang menggunakan mahkota dari emas. Tomé Pires sekitar abad ke-16 menyebutkan, bahwa emas yang diperdagangangkan di Malaka, Panchur (Barus), Tico (Tiku) dan Priaman (Pariaman), berasal dari kawasan pedalaman Minangkabau. Disebutkan juga kawasan Indragiri pada sehiliran Batang Kuantan di pesisir timur Sumatera, merupakan pusat pelabuhan dari raja Minangkabau.
Dalam prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman disebut bahwa dia adalah penguasa bumi emas. Hal inilah menjadi salah satu penyebab, mendorong Belanda membangun pelabuhan di Padang dan sampai pada abad ke-17 Belanda masih menyebut yang menguasai emas kepada raja Pagaruyung.Kemudian meminta Thomas Diaz untuk menyelidiki hal tersebut, dari laporannya dia memasuki pedalaman Minangkabau dari pesisir timur Sumatera dan dia berhasil menjumpai salah seorang raja Minangkabau waktu itu (Rajo Buo), dan raja itu menyebutkan bahwa salah satu pekerjaan masyarakatnya adalah pendulang emas.
Sementara itu dari catatan para geologi Belanda, pada sehiliran Batanghari dijumpai 42 tempat bekas penambangan emas dengan kedalaman mencapai 60 m serta di Kerinci waktu itu, mereka masih menjumpai para pendulang emas. Sampai abad ke-19, legenda akan kandungan emas pedalaman Minangkabau, masih mendorong Raffles untuk membuktikannya, sehingga dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang berhasil mencapai Pagaruyung melalui pesisir barat Sumatera.

Faktor perang
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Padri dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia
Tuanku Imam Bonjol, salah seorang pemimpin Perang Padri, yang diilustrasikan oleh de Stuers.
Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah Perang Padri,[27] muncul pemberontakan di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti Manggopoh (Perang Belasting) menentang Belasting dan pemberontakan komunis tahun 1926–1927. Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain.Dari beberapa perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman (merantau). Orang Sakai berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan bahwa mereka berasal dari Pagaruyung.Orang Kubu menyebut bahwa orang dari Pagaruyung adalah saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk masyarakat Minang yang melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman mereka karena tidak mau menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka. De Stuers sebelumnya juga melaporkan bahwa masyarakat Padangsche Bovenlanden sangat berbeda dengan masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat begitu percaya diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk lokal lalu lalang begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah ada penduduk lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok tersebut.

Merantau dalam sastra
Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri. Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Sitti Nurbaya dan Salah Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya menjadi orang yang berhasil. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya yang berjudul Kemarau, A.A Navis mengajak masyarakat Minang untuk membangun kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.
Novel yang bercerita tentang perantau Minang tersebut, biasanya berisi kritik sosial dari penulis kepada adat budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel, kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris, Gareth Evans.

sumber: http://papaboim.blogspot.com

Tuanku Aishah Canselor USIM

Dikirim oleh Warieh Khamis, 8 Disember 2011 0 Komen



Tuanku Aishah Rohani Tengku Besar Mahmud memperkatakan sesuatu kepada penerima anugerah cemerlang dari kiri, Muhamad Firdaus Ab. Rahman, Mohd. Shahrul Faizie Zaini, Mohd. Ashrafulzaim Abdul Wahab dan Ummi Farhan Omar pada Konvokesyen Ke-9 USIM di PICC, Putrajaya, semalam. - mingguan/hanafi khamis


PUTRAJAYA 3 Dis. - Tunku Ampuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Aishah Rohani Tengku Besar Mahmud hari ini dimasyhurkan sebagai Canselor wanita kedua Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Baginda dimasyhurkan bagi menggantikan bekas Canselor pertama universiti tersebut, Tunku Ampuan Najihah Tunku Besar Burhanuddin.

Pemasyhuran baginda diumumkan oleh Naib Canselor USIM, Profesor Datuk Dr. Muhamad Muda yang mewakili Menteri Pengajian Tinggi, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin pada Majlis Konvokesyen USIM Kesembilan di Pusat Konvensyen Antarabangsa Putrajaya (PICC) di sini, hari ini.

Dalam ucapan perasmiannya, baginda bertitah, sistem pendidikan berteraskan ilmu Islam merupakan pemangkin kepada umat Islam terutamanya yang berada di rantau Asia Tengah.

Titah baginda, jaringan hubungan luar bersama negara Islam lain perlu diperkukuhkan supaya hasrat dan cita-cita tersebut terlaksana.

"Setelah lebih 10 tahun universiti ini membangun, ia telah menjadi salah satu institusi Islam yang disegani di rantau ini kerana graduan USIM bukan sahaja cemerlang dalam akademik, malah dalam bidang kokurikulum.

"Kecemerlangan dalam bidang seperti perbahasan, kesenian dan kebudayaan Islam, sukan dan juga hubungan antarabangsa adalah satu tanda ukur bahawa USIM mampu mengorak langkah lebih maju ke hadapan dalam merealisasikan dasar pendidikan tinggi negara.

"Malahan, cendekiawan yang diasah oleh USIM juga mampu mengorak langkah ke peringkat global dan memperkenalkan pendidikan tinggi berasaskan ilmu naqli dan ilmu aqli," titahnya.

Turut berangkat pada majlis itu, Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Muhriz Tuanku Munawir.

Pada majlis itu, baginda turut berkenan menganugerahkan Ijazah Kehormat Doktor Falsafah kepada bekas Ketua Hakim Negara, Tun Abdul Hamid Mohamad.

Majlis konvokesyen kali ini menyaksikan seramai 1,196 graduan berjaya menerima ijazah dalam bidang masing-masing.

Dua graduan turut dipilih menerima Anugerah Pelajaran Diraja iaitu graduan Ijazah Sarjana Muda Dakwah dan Pengurusan Islam, Mohd. Shahrul Faizie Zaini dan graduan Ijazah Sarjana Muda Fiqh dan Fatwa, Muhamad Firdaus Ab. Rahman berdasarkan kecemerlangan mereka dalam bidang akademik dan kokurikulum termasuk aktif dalam perbahasan.

Sementara itu, Anugerah Canselor diberikan kepada graduan Ijazah Sarjana Muda Bahasa Arab dan Komunikasi, Ummi Farhana Omar, manakala penerima anugerah Pingat Emas Naib Canselor pula diterima graduan Ijazah Sarjana Muda Pengajian al-Quran dan Sunnah, Mohd. Ashrafulnizam Abdul Wahab.

NSCMH, Kolej Berjaya meterai MoU

Dikirim oleh Warieh Rabu, 7 Disember 2011 1 Komen



Dr. Nellie Tan Wong (dua dari kanan) bertukar MoU dengan Pengarah Akademi Kejururawatan (M) Sdn Bhd, Mae S K Ho (dua dari kiri) di Pusat Perubatan Negeri Sembilan Chinese Maternity Hospital di Seremban, baru-baru ini.


SEREMBAN 6 Dis. - Pusat perubatan Negeri Sembilan Chinese Maternity Hospital (NSCMH) dan Kolej Kejururawatan dan Sains Kesihatan Berjaya menandatangani memorandum persefahaman (MoU) bagi menyokong usaha kerajaan memantapkan tahap pembelajaran secara praktikal di NSCMH, baru-baru ini.

Presiden NSCMH, Datuk Dr. Nellie Tan Wong berkata, MoU itu antaranya berkaitan program pertukaran pelajar bertujuan mendedahkan mereka dengan pengalaman baru serta menghasilkan jaringan sosial lebih baik antara hospital dan kolej.

"Banyak yang akan dapat dipelajari oleh pelajar kolej melalui program ini kerana pelbagai bentuk rancangan boleh dirangka bagi mencapai matlamat integrasi nasional.

"Antara program yang boleh diadakan adalah menyertai kelas secara praktikal dengan pelbagai kemudahan yang disediakan," katanya ketika berucap pada majlis menandatangani MoU tersebut.

Menurutnya, usaha awal itu dilakukan dengan penghantaran pelajar ke NSCMH selama satu semester bagi memupuk semangat dan memahami dengan lebih mendalam konsep integrasi nasional yang sebenar.

Jelasnya, pelajar daripada kolej itu akan berada di NSCMH selama empat hingga enam bulan untuk membolehkan mereka mengambil beberapa kursus di samping menyertai aktiviti peringkat kolej serta berpeluang mengenali budaya dan adat resam negeri masing-masing.

"Kita bukan sahaja hendak menukar pelajar tetapi staf akademik dan pentadbiran juga akan diberi pendedahan serupa bagi membolehkan mereka mempelajari sesuatu yang baru di hospital," ujarnya.

Secara tidak langsung, katanya, program itu akan terus menggalakkan mobiliti pelajar kerana mereka perlu diberi pendedahan yang betul serta menyedari kepentingan pertukaran budaya, adat resam serta menimbulkan rasa yakin pelajar untuk mempelajari sistem perubatan.

Sementara itu, Pengarah Eksekutif Kolej Berjaya, Norashikin Cheong Abdullah berkata, kerjasama itu amat baik kerana pelajar kolej Berjaya juga perlu dihantar ke negeri berlainan untuk belajar dalam persekitaran yang baru serta mendedahkan mereka dengan ilmu yang baru.

"Program ini boleh melaksanakan banyak perkara secara bersama seperti penyelidikan, pertukaran pelajar dan staf serta kerjasama ini akan melahirkan semangat 1Malaysia dan memantapkan integrasi nasional.

"Saya lihat kepakaran kedua-dua pihak boleh digembleng untuk kepentingan bersama kerana usaha berterusan akan menghasilkan kejayaan yang baik bagi kolej ini," katanya.

C-Fest 9 lahirkan graduan dinamik

Dikirim oleh Warieh Jumaat, 2 Disember 2011 0 Komen



Dr. Hou Kok Chung (kanan), Dr. Muhamad Muda (dua dari kanan), Zaini Hassan (kiri) dan Dr. Mohamed Asin Dollah (dua dari kiri) melihat bunting Pesta Konvokesyen selepas hadir ke Majlis Perasmian Pesta Konvokesyen USIM di Nilai, semalam. - utusan/Abd. Razak Aid


SEREMBAN 1 Dis. - Penglibatan penuntut bagi menjayakan Pesta Konvokesyen Kesembilan (C-Fest 9) Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) 2011 adalah latihan terbaik ke arah melahirkan graduan berdaya saing dan dinamik.

Timbalan Menteri Pengajian Tinggi, Datuk Dr. Hou Kok Chung berkata, program berbentuk kepemimpinan itu diyakini berupaya mendidik serta memupuk keterampilan selain keyakinan dalam kalangan penuntut.

Katanya, penglibatan penuntut dalam program ini secara tidak langsung membolehkan mereka bijak mencatur hala tuju diri, khususnya dalam menghadapi dunia luar kini yang kian mencabar.

''Penyertaan mereka ini juga sekali gus mampu mengasah kemahiran yang tinggi untuk membuat sebarang keputusan penting dan menyelesaikan masalah diri serta organisasi dalam apa jua situasi pada masa depan," katanya ketika berucap pada Majlis Perasmian C-Fest 9 di Stadium Tertutup Nilai, Nilai di sini hari ini.

Turut hadir Naib Canselor Usim, Prof. Datuk Dr. Muhamad Muda; Penolong Ketua Pengarang 1 Kumpulan Utusan, Datuk Zaini Hassan dan Timbalan Naib Canselor Hal Ehwal Pelajar dan Alumni USIM, Prof. Datuk Dr. Mohamed Asin Dollah.

Menurutnya lagi, penuntut perlu memanfaatkan peluang sedemikian dalam usaha menimba ilmu dan pengalaman yang tidak boleh diperoleh melalui kursus pengajian yang diikuti.

''Ini kerana negara amat memerlukan graduan yang holistik dan seimbang dalam semua aspek agar keupayaan, potensi dan bakat diri mereka dapat dimanfaatkan sebaik mungkin demi membawa kecemerlangan dan kemajuan kepada negara," ujarnya.

C-Fest 9 yang berlangsung empat hari bermula hari ini hingga 4 Disember ini dianjurkan oleh USIM dengan kerjasama Kumpulan Utusan.

Pelbagai aktiviti menarik disediakan sepanjang pesta tersebut.

Sambutan pesta tersebut turut dimeriahkan dengan pembukaan sebanyak 140 gerai jualan khusus bagi para pengunjung.

86 peserta sertai persidangan antarabangsa

Dikirim oleh Warieh Rabu, 16 November 2011 0 Komen



Sebahagian peserta yang menghadiri Persidangan Antarabangsa Bagi Sains Gunaan, Matematik dan Kemanusiaan di Seremban, kelmarin.


SEREMBAN 15 Nov. – Seramai 86 peserta terdiri daripada penuntut tempatan dan luar negara menyertai Persidangan Antarabangsa Bagi Sains Gunaan, Matematik dan Kemanusiaan di Royale Bintang dekat sini, bermula semalam.

Program dua hari anjuran Universiti Teknologi Mara (UiTM) cawangan Negeri Sembilan itu bertujuan membolehkan usaha pengumpulan kepakaran dalam bidang berkaitan menerusi satu forum ilmiah.

Timbalan Rektornya, Dr. Khairul Anwar Rasmani berkata, sebelum ini sudah diadakan beberapa forum antarabangsa namun ia hanya melibatkan segelintir kelompok sahaja di negeri ini.

‘‘Oleh itu, kita mahu supaya para peserta datang ke sini dan pada masa yang sama kita mahu lihat perkara ini dapat dilakukan dengan lebih serius dan bertaraf antarabangsa melibatkan pelbagai bidang serta kepakaran menerusi Sains Gunaan, Matematik dan Kemanusiaan.

‘‘Berdasarkan kepada maklum balas kepada pihak kami, program ini diyakini mendapat sambutan menggalakkan menerusi penyertaan 30 peserta dari luar negara,” katanya ketika ditemui Utusan Malaysia di sini, semalam.

Khairul Anwar turut memberitahu, pelbagai tajuk akan dibincang dan dikupas oleh ahli panel sepanjang program tersebut selain pembentangan kertas kerja yang akan dilakukan oleh semua peserta yang mengambil bahagian pada persidangan tersebut.

Jelas beliau, berdasarkan kepada sambutan yang menggalakkan itu, pihaknya bercadang untuk menjadikan persidangan berkenaan sebagai salah satu acara tahunan dalam usaha menggalakkan lagi percambahan ilmu dakan kalangan para pesertanya.

‘‘Kita melihat persidangan ini sebagai satu ruang dan peluang bagi semua pihak mencernakan kefahaman dalam ketiga-tiga bidang ini meliputi sains gunaan, matematik dan kemanusiaan.

‘‘Kita menyasarkan agar hasil pembentangan kertas kerja dalam persidangan kali ini akan dijadikan sebagai rujukan pada persidangan akan datang,” kata beliau.

Carian

Lagu Kebesaran Negeri Sembilan

    Temui kami di facebook